Sunday, February 26, 2006

Cerpen anak

Tangis Jelek Ibu di Pasar
Pagi ini aku bangun dengan tergesa-gesa. Setelah jam wekerku berbunyi lima kali, aku segera beranjak ke kamar mandi. Cuci muka lalu gosok gigi. Dengan bersemangat, aku bernyanyi lagu kesukaanku tiap pagi. “ Bangun pagi ku terus mandi. Tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi ku….”. Tiba-tiba laguku terpotong karena kudengar ketukan halus di pintu kamar mandi. “ Adik, Ibu mau ke pasar. Adik mau ikut Ibu, tidak ?”, sapa Ibuku halus di balik pintu. Oh, rupanya Ibu yang mengetuk pintu. “ Iya Bu, Adik ikut. Tunggu ya, Bu “, jawabku sambil cepat-cepat mengeringkan wajahku dengan handuk.
Setelah gosok gigi, aku pun sgera menghampiri ibu yang sudah menungguku di luar. Kulihat ibu sudah berdiri di depan pagar sambil menenteng tas belanjaan merahnya. Hup, hup, kumeloncat-loncat di antara batu-batu yang berjajar rapi di rumahku dan hup…langsung kugandeng tangan Ibu. Ibu melihatku dengan senyumnya yang cantik. Dan kita pun akhirnya bersama-sama berangkat ke pasar.
Aku menyukai hari Minggu pagi. Karena Ibu biasanya akan mengajakku ke pasar. Di pasar itu aku bisa melihat orang melakukan bermacam-macam kegiatan. Ada yang berteriak-teriak, “ Mari Bu sini. Sayurnya masih seger-seger, lho. Mau beli berapa ikat, Bu ?”, atau “ Yang manis…yang manis…Neng. Mangganya manis, Neng. Mari beli”. Hi hi hi rasanya geli melihat di sepanjang jalan orang-orang itu akan menawari kita barang dagangannya. Biasanya ibuku akan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dan aneh, pedagang-pedagang itu sepertinya tahu kalau Ibu tidak ingin membeli barang dagangannya, padahal ibu tak bicara apa-apa.
Kalau ke pasar ibu suka mengunjungi tempat orang jual buah-buahan. Di sana ada penjual wanita yang bertubuh gemuk. Tapi meskipun ia gemuk, ia terlihat gesit ketika melayani pembelinya. Biasanya ia bicara dengan bahasa yang aneh. Suaranya keras sekali sampai terkadang aku agak menjauh agar telingaku tak sakit. Ia begitu bersemangat menjajakan dagangannya. Ibuku senang membeli buah-buahan di sana, karena katanya wanita itu sering memberinya potongan harga. Jadi, ibu bisa membayar lebih murah. Terkadang ia juga mengajakku berbicara, “ Nona cantik, suka makan buah-buahan, tidak ? “, tanyanya padaku. “ Mmm…suka”, jawabku malu-malu. “ Ya memang mesti begitu. Biar nggak mudah sakit, harus banyak makan buah-buahan, ya. Nih Ibu kasih Apel. Apelnya manis kok, dihabiskan ya ?”, tegasnya sambil mengulurkan sebuah apel berwarna merah padaku. “ Bilang apa, Dik ?”, sela ibuku. “ Terima kasih, Bu “, jawabku tersipu di balik lengan ibu.
Setelah itu, Ibu akan melanjutkan ke tempat orang jual ikan segar. Aku tidak terlalu suka tempat itu. Di sana baunya tidak enak. Mungkin karena ikan-ikan itu kan sudah mati semua, jadinya mulai mengeluarkan bau amis. Ah, tapi kata Ibuku tempat jualan ikan memang mesti amis begitu. Selain bau amis, tempat itu juga banyak lalatnya. Di sana sini lalat itu mengerubungi ikan yang matanya sudah melotot semua. Tapi ada juga lho, ikan yang masih hidup. Ibuku lebih suka membeli ikan yang masih hidup itu. Katanya kalau masih hidup, ikannya masih segar jadi nggak takut salah pilih ikan. Soalnya, biasanya ikan yang dijual mati itu sudah beberapa hari dijual terus belum laku. Kalau dibiarin aja kena lalat kan semakin banyak kuman yang menempel. Ihhh…..
Eh iya, di pasar aku lebih suka ke tempat ibu tua penjual kue. Di sana ada donat, roti gulung, lemper, lumpia, dan yang paling aku sukai yaitu kembang gula. Hmm..rasanya yang manis dan seperti terasa ada yang meluncur di lidahku. Lembut sekali di mulut.
Pernah suatu kali aku tiba-tiba menghilang dari gandengan ibu. Soalnya, waktu itu Ibu sedang sibuk memilih-milih sayuran dan bumbu-bumbu. Aku malas menunggu Ibu. Selain karena udaranya yang panas, juga orang-orang mulai berdesakkan di sekitarku. Tubuhku disenggol-senggol oleh mereka. Apalagi waktu itu ada ibu-ibu berbadan besar sekali yang berdiri tepat di samping ibuku. Mungkin karena ia tak melihatku, jadi ia semakin seenaknya saja menghimpitku diantara pantatnya dan pantat ibuku. Uuuhh…sesak sekali rasanya.
Akhirnya aku melepaskan tanganku dari gandengan Ibu dan keluar dari kerumunan itu. Perutku tiba-tiba terasa lapar sekali. Aku ingin makan sesuatu, tapi bagaimana yah ?. Ibuku masih dalam antrean itu. Wah, dari pada nunggu Ibu lebih baik aku beli kue sendiri saja deh. Kebetulan aku punya uang lima ratus rupiah di kantongku. Aha ! aku melihat ada seorang anak keluar dari kerumunan orang sambil membawa kue donat. Langsung kulangkahkan kakiku ke sana cepat-cepat agar ibuku tak berpindah tempat sebelum aku kembali.
Setelah beberapa penjual aku lewati, akhirnya sampailah aku di tempat penjual kue itu. Wah…rasanya air liurku mau menetes. Di sana banyak sekali kue dengan warna yang bermacam-macam. Tapi mataku langsung tertumbuk pada kue berwarna merah muda yang dibungkus plastik. Itu adalah kue kembang gula. Ibuku dulu pernah membelikanku saat jalan-jalan di alun-alun bersama ayah. Pertama kali ibuku memberikannya padaku aku langsung melonjak-lonjak kegirangan. Warnanya bagus sekali dan mmm….rasanya sangat manis. Sejak itu, aku tak pernah lupa untuk minta dibelikan kembang gula saat berjalan-jalan di alun-alun.
Kemudian kusodorkan uangku ke penjual kue itu, “ Bu saya beli kembang gula itua”, tunjukku. Ia mengambilkannya dan menyodorkan padaku. Uang lima ratus rupiah di kantongkus segera kuulurkan padanya. Namun, ia menatapku tanpa mengambil uang itu . “ Nak, harganya seribu. Uangmu cuma lima ratus rupiah, jadi masih kurang”, terangnya. Yah….padahal aku sudah membuka bungkusnya dan mengambilnya sesuap. Aku pun akhirnya berkata, “ Sebentar ya Bu, aku akan meminta uang pada ibuku dulu. Kuenya saya tinggal di sini dulu”. Ia berhenti sejenak menatapku dan…. , “ Baiklah, tapi segera kembali, ya “. Aku pun mengangguk dan bergegas pergi.
Di tempat ibuku berkerumun tadi aku berusaha mencari-cari Ibu. Lho, tapi Ibu kok tidak ada ?!. Aku berusaha mencari di dalam kerumunan itu, tapi ternyata tetap tidak kutemukan. Air mataku mulai menetes. Dengan lirih kupanggil, “ Ibu…Ibu…”. Sampai akhirnya tempat itu sepi dan tak kulihat Ibu sama sekali. Sambil melangkah dengan takut-takut, aku menghampiri penjual kue itu lagi. Aku pun memberanikan diri untuk bicara padanya. “ Bu, maaf ternyata Ibuku sudah tidak ada. Saya tidak punya uang lagi”, terangku. Dan…hhuuaa….aku menangis kencang-kencang di hadapannya. Ibu tua itu kemudian memelukku dan berusaha menenangkan aku.
Tak lama kemudian dari gang di sampingku kudengar ada yang berteriak , “Araaa….”. Ups, ada yang memanggil namaku. Aku menolehkan kepala kea rah itu. Dan kulihat Ibuku sudah berlari ke arahku sambil menenteng tas belanjaannya yang terlihat berat itu. Wajahnya pucat penuh keringat. Mungkin ia lelah berkeliling mencariku. Aku pun serta merta berlari ke arahnya dan memeluk perutnya erat-erat. “ Ibuuu……..”, sakku di pelukannya. Orang-orang di sekitarku pun tak luput melihat kami. Baru kali ini kulihat Ibu menangis. Rupanya wajah Ibu kalau menangis jelek sekali, karena mukanya memerah dan keluar ingus dari hidungnya.
Setelah tangisku reda, Ibuku mengajakku pulang dan tak lupa membayar kekuranganku yang tadi. Sambil berlalu pergi, Ibu tua itu tak lupa melambaikan tangannya padaku. Ah, aku berjanji esok hari aku akan ke sini lagi. Ternyata kembang gula ibu tua itu sangat enak. Tapi, aku akan mengajak ibuku. Sambil digandeng Ibu, kupikir ia akan memarahiku tapi ternyata ia malah menasehatiku agar suatu saat nanti minta ijin terlebih dulu jika ingin pergi ke suatu tempat. Senangnya hatiku punya Ibu yang begitu baik.
Sejak saat itu, aku selalu minta ijin pada Ibu kemana pun aku akan pergi. Karena aku tidak mau melihat Ibuku menangis lagi. Ibuku lebih cantik kalau tersenyum. Kata Ayah, senyum Ibu itulah yang membuatku hadir di dunia ini. Sebenarnya maksud Ayah apa, ya ? Ah, mungkin itu semacam pembicaraanya orang-orang yang sudah se’gede’ mereka.
Jadilah setelah Ibuku mengajakku berkeliling pasar, kami pun pulang. Satu hal yang aku sukai juga, yaitu kita selalu pulang naik becak. Aku menyukainya karena aku bisa melihat kendaraan di sekitarku dan rasanya sejuk sekali karena bisa merasakan angin yang berhembus. Tak jarang akhirnya aku tertidur di pangkuan Ibu karena saking enaknya. Perjalananku ke pasar sungguh sangat menyenangkan. Esok hari aku pasti akan menantikan perjalanan ke pasar lagi.

Tuesday, February 14, 2006

Just Write It !

Ketika begitu banyak pikiran yang sedang berkecamuk di kepala kita, rasanya pingin memuntahkan semuanya saja biar tak terlalu memperberat memori yang ada. Saat ini aku lagi pengen menyelesaikan sebuah tulisan. Satu dulu aja, gpp. Aku pikir aku masih perlu menguji kekonsistenanku sendiri. U know lah, aku tuh seringnya pingin ngelakuin sesuatu yang semangat pas di awalnya doang. Nah...buat mempertahankan mood nulis itu yang masih syusah.

Tapi aku pernah baca komentarnya J.K Rowling (penulis buku Harry Potter) yang bilang kalo awal menulis bisa dimulai dari menuliskan pengalaman sendiri. Yah...aku pikir dengan menggunakan subjek aku memang akan lebih mengena. Tapi sebenernya gak hanya sebatas itu saja. Penggunaan subjek aku tanpa ada pengalaman konkret yang dialami penulis sendiri mungkin masih akan susah.Utamanya bagi penulis pemula (like me).

Sebenernya yang dikatakan pengalaman konkret, ya gak mesti setiap kita nulis kita mesti ngelaminnya dulu sih. Minimal untuk menguatkan tulisan kita, kan mesti ada bukti-bukti akuratnya. Yah, bisa jadi kita mengambil data melalui media. Meski harus tetap diakui bahwa menuliskan sesuatu dengan disertai pengalaman konkret akan lebih menguatkan tulisan.

Menurut Meier, salah satu tekhnik menulis adalah dengan menggunakan tekhnik SAVI. Somatik, Audio, Visual, dan Intelektual. Somatik tuh lebih menitik beratkan pada pergerakan. Dimana ketika kita membaca atau menulis, tak perlu membuat diri menjadi semakin jenuh sendiri dengan menenggelamkan diri dalam-dalam tanpa batas. Sesekali kita perlu memberikan jeda untuk melakukan kegiatan lain. Ya gak perlu kegiatan besar, cukup gerakan kecil saja. Misalnya , memutar-mutar leher or push up mungkin.
Trus kalo Audio lebih menekankan pada aspek pendengaran. Misalnya aja, ketika kita membaca dan ada kata-kata yang mungkin kita anggap sulit, maka sarannya adalah cobalah untuk membacanya keras-keras. Karna ketika kita membacanya keras-keras, maka otak otomatis akan ikut bekerja untuk mencernanya. Dan akan lebih bisa kita resapi karna yang kita bukan menghafal, tapi memahami.
Visual juga salah satu aspek pentingnya. Dimana mata sebagai indera yang cukup memberikan info penting buat kita disamping indera-indera yang lain. Di sini ditekankan bahwa membaca buku yang dilengkapi dengan gambar akan lebih memudahkan kita untuk memahaminya. Atau kalaupun tidak ada gambar, kita bisa menggunakan imajinai kita untuk membayangkannya.
Sedangkan intelektual, sudah pasti ini akan selalu kita gunakan. Sebenernya proporsinya tidak terlalu besar, karena intelektual bisa dipelajari. Yah...kalo pun ada intelektual bawaan semisal IQ tapi bukankah kemampuan manusia tak hanya itu saja. Banyak kekayaan intelektual yang lain.

Memang untuk membiasakan menulis itu sendiri sangat sulit. Ini termasuk aku alamin sendiri sih. Betapa menyisihkan waktu 15 menit sehari saja, masih harus membuat kompromi-kompromi lagi. yang banyak tugas lah, yang gak sempet lah, yang capek lah. Padahal sebenernya kebiasaan itu kitalah yang bisa membentuknya. Bukan kita dibentuk oleh kebiasaan. So.... mungkin dengan memulia bikin tulisan kecil di diary tiap hari juga salah satu solusi membiasakan kebiasaan menulis itu. Kata Bapak Hernowo penulis buku Mengikat Makna, tuliskan apapun yang kamu lihat, tak perlu khawatir itu hal yang simpel atau tidak berguna. Karna suatu saat nanti siapa tahu itu berguna. Belajar untuk konsisten dari hal-hal kecil .

Wahh....just write it ajalah pokoknya !!!!!

Ccchhhhaayyooooo!!!!!!!!!!!!!

Thursday, February 09, 2006

Lagi bad mood

Hari ni entah kenapa aku pake baju warna merah. Padahal kalo aku pake baju warna merah ini menguras emosiku dan pinginnya melakukan segala sesuatu dengan emosi. Wih...padahal atiku kan lagi pingin damai. kedamaian....kedamaian.....

Hari ni kuliahku sebenernya enak sih. Bu dosenku juga cantik bo..!! wih aku aja naksir apalagi yang cowok yah ? masih muda lagi. hmm...acungan jempol juga buat ibu satu itu, karena di usianya yang masih muda (28 taon) udah lulus S2. en punya anak satu. Wihhh....gue juga pingin loo kayak gitu. Tapi kapan ya ????
Tentang organisasiku,...
mmm lagi-lagi aku mengalami kejenuhan. yah wajar sih emang ketika seseorang ingin mengambil jeda sejenak dari rutinitas yang biasanya. ya gak ? mungkin itu juga yang sedang aku rasain. rutinitas itu membuatku jengah dan mulai tak bersemangat lagi berada di sana

Friday, February 03, 2006

Kado Buat Abi

Malam ini masihlah tetap seperti malam-malam yang kemarin. Hanya bedanya aku tak bisa tidur. Meskipun seharian tadi aku merasa sangat lelah karena harus bergulat dengan pakaian kotor suami dan anak-anakku, tapi entah malam ini aku begitu resah. Pikiranku melayang-layang entah kemana. Sudah beberapa hari ini aku sering terbangun tiba-tiba.

Malam menjadi semakin larut. Suamiku sudah tampak nyenyak tidur di samping tubuhku. Aroma tubuhnya lekat dengan hidungku. Yah…aroma inilah yang selalu kurindukan darinya. Aroma inilah yang membuatku nyaman ketika kurasakan kecemasan melandaku. Dari keremangan cahaya kamarku, kulihat gurat ketegasan di wajahnya. Menyiratkan bahwa ia seorang lelaki yang tangguh. Tak dirasakan lelah yang menempanya selama sesiangan tadi. “ Abi, aku sayang kamu “, bisikku di telinganya lembut. Hmm…kebiasaanku sehari-hari pada Abiku tersayang itu. Usia perkawinan yang sudah tak muda lagi bagi kami, tak membuatku berjarak dengannya. Malah aku semakin sering bergelayut manja padanya. Bagaimana tidak , rasanya aku tak tahan saat ia di dekatku. Bawaannya pingin memeluknya terus.

Tak peduli ia kelelahan sehabis mengantarkan penumpang ke sana kemari. Rasanya damai sekali berdekatan dengan Abiku. Sosok lelaki ‘jantan’ yang membuatku merasa menjadi bidadari di matanya. Perlakuannya padaku, sering membuatku gemas. Ia masih saja memperlakukanku seperti gadis kecil yang manja, meski di usiaku yang menjelang senja ini. Pernah suatu saat ia cemburu padaku, karena ada tetangga yang menggodaku, tapi ia bukannya malah marah-marah, tapi ia malah dengan erat memelukku sepanjang jalan di kampung. Sambil sesekali mengelus-elus kepalaku.Hhh….

Ups…Abi mulai membuka matanya, bisikku dalam hati.Dan aku berpura-pura memejamkan mataku agar terlihat aku sedang tidur. Kuintip ia perlahan-lahan dari balik bulu mataku, dan kulihat ia sedang mengendap-endap menuju kamar mandi. Dan aku sudah tak heran lagi. Seperti di tiap-tiap malam biasanya, ia pasti hendak ‘bercinta dengan Rabbnya. Tiba-tiba kurasakan sentuhan lembut di pipiku, sepertinya Abi ingin mengajakku turut serta. “ Umi sayang….., bangun yuk. Ada banyak malaikat yang datang malam ini. Maukah turut serta memuja nama Rabb kita ??. Bidadariku yang manis, bangunlah sejenak, yuk….buka mata dulu. Bentar aja “, bisik Abiku lembut di sela-sela rambut-rambut kecil yang menutupi telingaku. Ah..kurasakan getaran hebat di tubuhku. Aku pun terbangun dan langsung memeluknya. Duh…kangen sekali aku padanya.

Setelah mengambil air wudlu, aku dan Abiku mulai melakukan sholat lail. Sambil sesekali kudengarkan isakan dari mulutnya, suasana malamku menjadi begitu damai sekali. Seusai sholat aku bermuhasabah dengannya. Introspeksi diri dan saling mengingatkan akan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Selalu begitu saja tiap-tiap malamku.

Karena Abiku masih merasakan kelelahan yang teramat sangat karena mengayuh becaknya di sepanjang jalan raya seharian tadi, ia biasanya menyempatkan diri untuk tidur-tiduran sejenak. Sementara aku langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan bagi anak-anakku. O iya aku lupa, batinku. Hari ini Abiku berulang tahun. Inilah yang menjadi beban pikiranku beberapa hari kemarin. Duh…aku tak punya uang lebih untuk membelikannya sesuatu yang berharga. Uang belanja dari Abi kemarin saja hampir habis untuk biaya pengobatan anakku yang paling kecil. Terus aku mesti gimana ??

Yah…..aku tahu. Aku langsung menuju ke kebun belakang dan mulai menggali-gali tanah. Kucabut akar pohon yang sdah tampak membesar itu. Sebatang ketela pohon kudapati di sana. Dengan cekatan aku mengulitinya dan mulai membersihkannya. Aku mau bikin roti tart dari singkong. Dengan berbekal pengalaman sehari-hariku mengolah bahan makanan yang satu itu, akhirnya singkong kukusku itupun jadi. Sebelumnya kucetak dulu di sebuah loyang berbentuk bundar agar semakin mirip dengan kue tart. Lalu setelah matang di atsnya kuberi taburan gula putih dan sedikit gula merah juga tak lupa satu lilin kecil di tengahnya. Wow…kue yang cantik, seruku.

Ketika Adzan subuh berkumandang aku dan seluruh keluargaku sholat berjamaah di mushola sebelah rumah. Kebiasaan ini masih saja melekat pada keluarga kami, meski sudah bertahun-tahun sejak kami memulainya pertama kali. Beberapa menit kami berada di mushola, kemudian ketika sampai di rumah, aku meminta pada seluruh keluargakuagar berkumpul di dapur. Dan dengan mesranya aku memeluk Abiku dari belakang dan mengucapkan “ Selamat Ulang Tahun, Abi sayang. Semoga Allah memberkahi umurmu”, ucapku padanya dan akhirnya diikuti semua anak-anakku. Abiku begitu terpesona ketika kuperlihatkan kue tart bikinanku itu. Bahkan sampai-sampai ia berani mencium pipiku di depan anak-anak. Dan tak lupa usapan lembut di kepalaku, yang selalu membuatku seperti gadis belasan tahun. Ah.. Abi semoga di usiamu yang semakin senja ini, engkau selalu diberi kekuatan untuk menghadapi pahit getir hidup ini bersamaku, hingga ssaatnya nanti kita berpisah. “ Kami semua sayang Abi !!!”, ucap aku dan anak-anakku berbarengan sambil memeluknya erat. Lalu kami tertawa bersama-sama.

Aku Cemburu Lagi

Kulihat wanita bertubuh sintal itu tengah tergolek lemah di atas seprai putih. Bau khas obat-obatan membuat kepalaku makin berdenyut-denyut. Hampir 8 jam aku menemani wanita berparas ayu itu berjuang menantikan kehadiran buah hati pertamanya. Tak ada mimik kesakitan lagi yang kulihat di wajahnya. Bahkan butir-butir keringat yang menempel di dahinya seperti kerlip mutiara baginya. Hanya kedua matanya saja yang masih terlihat sembab sehabis persalinannya tadi.

Ini cucu pertama bagi ibu mertuaku. Aku tahu betapa ia sangat gembira dengan datangnya cucu pertama ini. Meski cucu itu bukan dari Mas Arman—suamiku—sebagai anak pertama di keluarga besarnya. Semenjak seharian tadi ibu mertuaku memang tak lelah untuk menunggui wanita itu. Mulai sejak kontraksi hebat dan harus dibawa ke rumah sakit, sampai menemani detik-detik hadirnya sang jabang bayi. Dan kini, ia sedang berada di sisi Ella, begitulah nama adik iparku itu.

Sementara aku hanya melihatnya dari kejauhan. Aku agak lelah karena seharian tadi harus turut bergantian dengan ibu menemani Ella. Tak tega rasanya kalau sampai meninggalkan ia merintih-rintih sendirian. Apalagi ini pengalaman pertama baginya. Mas Arman duduk di sebelahku sambil memberiku ruang untuk merebahkan kepalaku di pundaknya. Kami berdua hanya terdiam sambil mengamati Ella yang kini sudah mulai bisa berkomunikasi dengan ibu.
“ Dek, kamu kenapa diam saja ? “, tanya Mas Arman lembut di telingaku
“ Mmm…nggak apa-apa Mas. Aku cuma sedang kelelahan saja “, jawabku singkat
“ Tapi biasanya kamu yang paling ceria lho kalau ada moment-moment seperti ini.Apa yang sedang

kamu pikirkan, Cah Ayu ?”, rayunya sambil memanggilku dengan panggilan kesayangannya.
“ Hmm…nggak ada yang aku pikirkan “, sambil aku agak merenggangkan sandaranku padanya.
“ Ya sudah kalau gitu. Sini bersandar lagi sama aku biar lelahnya sedikit berkurang “.
“ Nggak deh Mas. Kayaknya capeknya udah ilang kok. Aku ijin keluar sebentar ya ?! “, tolakku
sambil berlalu pergi.

Kutelusuri lorong rumah sakit itu sambil menahan air mata yang sudah mengambang di pelupuk mataku. Entah apa yang sedang aku rasakan kini. Rasanya aku ingin sesegera mungkin menyingkir dari tempat ini dan menenangkan diriku sejenak. Ketika hampir mencapai pintu gerbang rumah sakit cepat-cepat kulangkahkan kakiku ke arah halaman karena bendungan air mataku hampir saja jebol. Untunglah kulihat sebuah bangku kosong yang nampak cukup nyaman untukku. Dengan sekali tarikan nafas panjang aku pun menangis tersedu-sedu di sudut halaman itu. Rasanya meluber segala yang mengganjal di hatiku. Ujung bajuku hampir bisa diperas karenanya.
Setelah hampir 1 jam aku menumpahkan segala yang aku rasakan, aku pun mulai bisa menghela nafas dan sedikit lebih tenang. Tarikan nafasku pun lebih teratur. Aku sedih Rabb…, rintihku pelan. Di tengah kegembiraan yang melanda keluarga kami ini, terselip perih di hatiku. Aku ingat tentang aku dan Mas Arman yang sampai kini belum dikaruniai seorang anak.

Pernikahanku dengan Mas Arman memang baru berjalan beberapa bulan. Memang awalnya aku dan suamiku tak mempersoalkan masalah anak, tapi walau bagaimanapun aku sebagai seorang wanita sejak awal akan merasa kurang sempurna ketika belum memberinya seorang keturunan. Bahkan kalau sampai keduluan adiknya seperti ini. Dulu perkawinan kami memang sempat tak direstui kedua orang tuaku. Mereka beralasan kalau calon suamiku harus memenuhi kriteria pangkat dan jabatan yang tinggi. Itulah yang membuat kami sempat maju mundur dalam melanjutkan rencana pernikahan kami. Hingga akhirnya Mas Arman harus mengalah untuk memberi kesempatan pada adiknya melangsungkan pernikahan terlebih dahulu. Perasaanku waktu itu sontak begitu iri dan cemburu. Namun belakangan baru diketahui bahwa pernikahan itu dilakukan untuk mempertanggung jawabkan kehamilan Ella yang sudah memasuki usia 5 bulan.

Hhhmm…..aku menangis kalut waktu itu.
Ia masih terlampau muda untuk mendapatkan tanggung jawab sebesar itu. Di usianya yang masih 3 tahun di bawahku itu, ia tampak begitu lugu. Dan cantik . Namun kehamilan yang tak diduga itu tak membuat keluarga suamiku berubah. Bahkan mereka begitu welcome dengan kehadirannya. Tak seperti di keluarga-keluarga lain yang biasanya begitu shock dan tampak tidak ramah, mereka malah sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Cantik, lugu, disayangi seluruh keluarga, dan kehamilan yang malah ditunggu-tunggu membuatku cemburu padanya. Diam-diam aku sering memperhatikan wajahnya yang masih imut itu, rambutnya yang hitam lurus sebahu, matanya yang lentik, bibir yang mungil dan tubuh yang sintal serta tinggi semampai. Wiihh….lelaki mana yang nggak akan berdecak kagum melihatnya ?!.

Betapa aku ingin sekali menutupi mata calon suamiku agar tak melihat padanya. Meski ia adik iparnya sendiri, tapi namanya ketertarikan tak akan pandang bulu. Apalagi ia masih tinggal serumah dengan keluarga besar ibu mertuaku saat itu. Mas Arman waktu itu pernah bilang padaku, “ Wanita yang pertama kali hamil pasti akan terlihat cantik !”. Kuakui kehamilan Ella membuatnya semakin terlihat cantik , namun kali ini pengakuan Mas Arman semakin menguatkan keyakinanku bahwa ia sering memperhatikan Ella. Duh…Gusti perih rasanya hatiku.

Sementara menunggu restu dari kedua orang tuaku sendiri juga sangat melelahkan buat aku dan Mas Arman. Ketika kami tak tahu hal apa saja yang belum kami lakukan atau juga hal-hal yang sekiranya memicu keterlambatan turunnya “Surat Keputusan Nikah” dari mereka , kami mulai mencoba menerka-nerka dan berspekulasi tanpa ada fokusnya. Dan waktu itu aku sempat iba melihat calon suamiku yang usianya sudah terpaut jauh diatasku. Betapa usianya sudah tak muda lagi. Naluri kebapakannya pun juga sudah mulai terbentuk. Aku bisa melihat dari perilakunya bahwa ia sudah begitu merindukan teman ‘seperjalanan’ dalam hidupnya yaitu istri dan anak-anak. Tapi aku pun juga tak bisa berbuat apa-apa, meski mereka adalah orang tuaku.
Mendekati usia 8 bulan kandungan Ella, orang tuaku mulai membuka diri dan dengan pendekatan secara halus, aku dan Mas Arman mendapat restu dari kedua orang tuaku. Akad nikah yang sederhana dan hanya dihadiri oleh beberapa kerabat keluarga, tetangga dan teman-teman kami membuatku tak dapat menahan haru. Seolah tak sia-sia peluh kesabaranku dalam menghadapi perjuangan ini. Subhanallah ….. aku akhirnya mampu menyempurnakan ibadahku.

Menginjak bulan ke 2 pernikahanku, kandungan Ella yang semakin besar mendekati masa persalinan. Dan itu terjadi hari ini. Ketika aku menyempatkan mengunjungi ibu mertuaku. Awalnya Ella masih terlihat baik-baik saja, bahkan sempat ngobrol-ngobrol denganku. Namun, beberapa menit kemudian ia terlihat merintih-rintih kesakitan. Rupanya rahimnya berkontraksi hebat. Untunglah ada suamiku dan beberapa saudara laki-laki lainnya yang akhirnya mengantarkannya ke rumah sakit terdekat. Sementara suaminya sendiri , sejak semalaman belum pulang. Dan baru diketahui kalau ia sedang begadang bersama kawan-kawannya ketika salah satu pamannya mencari-carinya di tempat tongkrongannya. Fiiuuhh….aku hanya dapat mengelus dada melihat kelakuan adikku iparku ini.
Yah, mau gimana lagi kehamilan yang tidak diharapkan memang sering menimbulkan dampak psikologis keengganan pada orang tua si bayi. Sesuatu yang munculnya tak terduga dan tak direncanakan. Bahkan ceritanya waktu itu Ayah si jabang bayi sempat ingin menggugurkan anak yang sudah 3 bulan dikandung ibunya. Untungnya tidak terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan selama masa kehamilan.

Selama menunggu masa persalinan, aku dan ibu mertuaku bergantian menjaga Ella. Dan sesekali suaminya juga ikut menungguinya, meski dengan muka yang begitu terpaksa. Kadang ketika ibu atau suaminya yang menjaga, aku menyempatkan diri untuk mengobrol dengan Mas Arman yang menunggu di luar. Berada di dekat Mas Arman membuatku bisa lebih tenang dan memiliki keberanian lebih untuk menemani Ella. Maklumlah , seumur hidup baru kali ini aku melihat proses persalinan secara langsung.
Dan Mas Arman adalah teman pengendali emosiku yang paling baik. Sosok pelindung dan penyayangnya membuatku tak pernah bosan ketika berlama-lama dengannya.

Hingga akhirnya 8 jam kemudian, Ella dengan sekuat tenaga melahirkan seorang anak. Ia dan bayinya selamat. Dan bayi perempuan mungil yang sedang digendong suster waktu itu membuatku menangis terharu di bahu Mas Arman. Maha Besar Ia yang menciptakan makhluk yang begitu indah dan cantik. Setelah bayinya selesai dimandikan oleh suster, Mas Arman-lah orang pertama yang menggendong bayi mungil itu. Dan ia pula yang meng-adzani di telinga kanan si bayi.
Seketika itu juga, perasaan cemburuku spontan meluap hingga ke ujung kepalaku. Mengapa mesti Mas Arman yang meng-adzani dia ? Mengapa bukan suaminya ?!, jerit hatiku waktu itu. Aku ingin Mas Arman mengalami masa pertama kali kagum dan takjub adalah pada bayi kami berdua. Dan ia pertama kali dalam hidupnya mengadzani bayi mungil dan itu juga bayi kami berdua. Bukan bayi adiknya, atau orang lain manapun. Namun kulihat pancaran kegembiraan tak terhingga di matanya, dan aku semakin tenggelam dalam kesedihanku. Ia sempat mengiming-imingi aku, dan aku merasa muak karenanya. Aku sebagai wanita juga memiliki keinginan untuk memiliki keturunan dan melakukan perjuangan itu tapi kini aku masih belum dikaruniaiNya. Dan ini membuatku cemburu lagi.

Ahhh…Rabbi, maafkan aku jika akhirnya aku iri. Ampuni aku jika akhirnya aku cemburu. Sungguh anugerahMu padanya membuatku ingin merasakan hal yang sama. Bahkan kadang pikiran busukku tiba-tiba menelusup dan berbisik, aku sering merasa bahwa aku dan Ella pernah sama-sama melakukan suatu dosa, tapi ia seolah mendapat anugerah yang tiada tara. Pernikahan yang istimewa, Keluarga yang menyayanginya, kehamilan yang ditunggu banyak orang, kelahiran anak perempuan yang menyita perhatian banyak orang dan pesona kecantikan yang tak pernah terelakkan oleh siapapun. Dan aku iri.

Namun, setelah aku pikir-pikir, aku cukup jahat juga rupanya. Seharusnya aku mampu melihat sisi terangnya yang lain. Bahwa ini menjadi salah satu anugerah untuknya karena ia pernah mengalami masa ‘keruwetan’ dalam keluarganya. Tak ada kasih sayang seorang ibu yang pernah benar-benar menelusup di kalbunya. Sebab perselingkuhan ibunya dengan laki-laki lain membuat hidup keluarganya berantakan. Dan semua ini akan menjadi hadiah terindah dari Allah untuknya.

Hatiku mulai semakin tenang meski aku tetap cemburu pada indahnya anugerah yang diberikan padanya. Dan masih tak dapat menerima Mas Arman yang mengadzani seorang bayi untuk pertama kalinya pada bayi Ella. Tapi aku cukup bisa menguasai emosiku. Kupejamkan kedua mataku, kuhirup nafas dalam-dalam dan kuhembuskan udara perlahan-lahan. Tiba-tiba dari belakang sebuah sentuhan halus menyentuh pundakku. Refleks kutolehkan pandanganku dan kulihat senyum Mas Arman mengembang untukku. Sengaja kemudian ia duduk di sampingku dan membiarkan kepalaku bersandar di dadanya.