Sunday, February 26, 2006

Cerpen anak

Tangis Jelek Ibu di Pasar
Pagi ini aku bangun dengan tergesa-gesa. Setelah jam wekerku berbunyi lima kali, aku segera beranjak ke kamar mandi. Cuci muka lalu gosok gigi. Dengan bersemangat, aku bernyanyi lagu kesukaanku tiap pagi. “ Bangun pagi ku terus mandi. Tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi ku….”. Tiba-tiba laguku terpotong karena kudengar ketukan halus di pintu kamar mandi. “ Adik, Ibu mau ke pasar. Adik mau ikut Ibu, tidak ?”, sapa Ibuku halus di balik pintu. Oh, rupanya Ibu yang mengetuk pintu. “ Iya Bu, Adik ikut. Tunggu ya, Bu “, jawabku sambil cepat-cepat mengeringkan wajahku dengan handuk.
Setelah gosok gigi, aku pun sgera menghampiri ibu yang sudah menungguku di luar. Kulihat ibu sudah berdiri di depan pagar sambil menenteng tas belanjaan merahnya. Hup, hup, kumeloncat-loncat di antara batu-batu yang berjajar rapi di rumahku dan hup…langsung kugandeng tangan Ibu. Ibu melihatku dengan senyumnya yang cantik. Dan kita pun akhirnya bersama-sama berangkat ke pasar.
Aku menyukai hari Minggu pagi. Karena Ibu biasanya akan mengajakku ke pasar. Di pasar itu aku bisa melihat orang melakukan bermacam-macam kegiatan. Ada yang berteriak-teriak, “ Mari Bu sini. Sayurnya masih seger-seger, lho. Mau beli berapa ikat, Bu ?”, atau “ Yang manis…yang manis…Neng. Mangganya manis, Neng. Mari beli”. Hi hi hi rasanya geli melihat di sepanjang jalan orang-orang itu akan menawari kita barang dagangannya. Biasanya ibuku akan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dan aneh, pedagang-pedagang itu sepertinya tahu kalau Ibu tidak ingin membeli barang dagangannya, padahal ibu tak bicara apa-apa.
Kalau ke pasar ibu suka mengunjungi tempat orang jual buah-buahan. Di sana ada penjual wanita yang bertubuh gemuk. Tapi meskipun ia gemuk, ia terlihat gesit ketika melayani pembelinya. Biasanya ia bicara dengan bahasa yang aneh. Suaranya keras sekali sampai terkadang aku agak menjauh agar telingaku tak sakit. Ia begitu bersemangat menjajakan dagangannya. Ibuku senang membeli buah-buahan di sana, karena katanya wanita itu sering memberinya potongan harga. Jadi, ibu bisa membayar lebih murah. Terkadang ia juga mengajakku berbicara, “ Nona cantik, suka makan buah-buahan, tidak ? “, tanyanya padaku. “ Mmm…suka”, jawabku malu-malu. “ Ya memang mesti begitu. Biar nggak mudah sakit, harus banyak makan buah-buahan, ya. Nih Ibu kasih Apel. Apelnya manis kok, dihabiskan ya ?”, tegasnya sambil mengulurkan sebuah apel berwarna merah padaku. “ Bilang apa, Dik ?”, sela ibuku. “ Terima kasih, Bu “, jawabku tersipu di balik lengan ibu.
Setelah itu, Ibu akan melanjutkan ke tempat orang jual ikan segar. Aku tidak terlalu suka tempat itu. Di sana baunya tidak enak. Mungkin karena ikan-ikan itu kan sudah mati semua, jadinya mulai mengeluarkan bau amis. Ah, tapi kata Ibuku tempat jualan ikan memang mesti amis begitu. Selain bau amis, tempat itu juga banyak lalatnya. Di sana sini lalat itu mengerubungi ikan yang matanya sudah melotot semua. Tapi ada juga lho, ikan yang masih hidup. Ibuku lebih suka membeli ikan yang masih hidup itu. Katanya kalau masih hidup, ikannya masih segar jadi nggak takut salah pilih ikan. Soalnya, biasanya ikan yang dijual mati itu sudah beberapa hari dijual terus belum laku. Kalau dibiarin aja kena lalat kan semakin banyak kuman yang menempel. Ihhh…..
Eh iya, di pasar aku lebih suka ke tempat ibu tua penjual kue. Di sana ada donat, roti gulung, lemper, lumpia, dan yang paling aku sukai yaitu kembang gula. Hmm..rasanya yang manis dan seperti terasa ada yang meluncur di lidahku. Lembut sekali di mulut.
Pernah suatu kali aku tiba-tiba menghilang dari gandengan ibu. Soalnya, waktu itu Ibu sedang sibuk memilih-milih sayuran dan bumbu-bumbu. Aku malas menunggu Ibu. Selain karena udaranya yang panas, juga orang-orang mulai berdesakkan di sekitarku. Tubuhku disenggol-senggol oleh mereka. Apalagi waktu itu ada ibu-ibu berbadan besar sekali yang berdiri tepat di samping ibuku. Mungkin karena ia tak melihatku, jadi ia semakin seenaknya saja menghimpitku diantara pantatnya dan pantat ibuku. Uuuhh…sesak sekali rasanya.
Akhirnya aku melepaskan tanganku dari gandengan Ibu dan keluar dari kerumunan itu. Perutku tiba-tiba terasa lapar sekali. Aku ingin makan sesuatu, tapi bagaimana yah ?. Ibuku masih dalam antrean itu. Wah, dari pada nunggu Ibu lebih baik aku beli kue sendiri saja deh. Kebetulan aku punya uang lima ratus rupiah di kantongku. Aha ! aku melihat ada seorang anak keluar dari kerumunan orang sambil membawa kue donat. Langsung kulangkahkan kakiku ke sana cepat-cepat agar ibuku tak berpindah tempat sebelum aku kembali.
Setelah beberapa penjual aku lewati, akhirnya sampailah aku di tempat penjual kue itu. Wah…rasanya air liurku mau menetes. Di sana banyak sekali kue dengan warna yang bermacam-macam. Tapi mataku langsung tertumbuk pada kue berwarna merah muda yang dibungkus plastik. Itu adalah kue kembang gula. Ibuku dulu pernah membelikanku saat jalan-jalan di alun-alun bersama ayah. Pertama kali ibuku memberikannya padaku aku langsung melonjak-lonjak kegirangan. Warnanya bagus sekali dan mmm….rasanya sangat manis. Sejak itu, aku tak pernah lupa untuk minta dibelikan kembang gula saat berjalan-jalan di alun-alun.
Kemudian kusodorkan uangku ke penjual kue itu, “ Bu saya beli kembang gula itua”, tunjukku. Ia mengambilkannya dan menyodorkan padaku. Uang lima ratus rupiah di kantongkus segera kuulurkan padanya. Namun, ia menatapku tanpa mengambil uang itu . “ Nak, harganya seribu. Uangmu cuma lima ratus rupiah, jadi masih kurang”, terangnya. Yah….padahal aku sudah membuka bungkusnya dan mengambilnya sesuap. Aku pun akhirnya berkata, “ Sebentar ya Bu, aku akan meminta uang pada ibuku dulu. Kuenya saya tinggal di sini dulu”. Ia berhenti sejenak menatapku dan…. , “ Baiklah, tapi segera kembali, ya “. Aku pun mengangguk dan bergegas pergi.
Di tempat ibuku berkerumun tadi aku berusaha mencari-cari Ibu. Lho, tapi Ibu kok tidak ada ?!. Aku berusaha mencari di dalam kerumunan itu, tapi ternyata tetap tidak kutemukan. Air mataku mulai menetes. Dengan lirih kupanggil, “ Ibu…Ibu…”. Sampai akhirnya tempat itu sepi dan tak kulihat Ibu sama sekali. Sambil melangkah dengan takut-takut, aku menghampiri penjual kue itu lagi. Aku pun memberanikan diri untuk bicara padanya. “ Bu, maaf ternyata Ibuku sudah tidak ada. Saya tidak punya uang lagi”, terangku. Dan…hhuuaa….aku menangis kencang-kencang di hadapannya. Ibu tua itu kemudian memelukku dan berusaha menenangkan aku.
Tak lama kemudian dari gang di sampingku kudengar ada yang berteriak , “Araaa….”. Ups, ada yang memanggil namaku. Aku menolehkan kepala kea rah itu. Dan kulihat Ibuku sudah berlari ke arahku sambil menenteng tas belanjaannya yang terlihat berat itu. Wajahnya pucat penuh keringat. Mungkin ia lelah berkeliling mencariku. Aku pun serta merta berlari ke arahnya dan memeluk perutnya erat-erat. “ Ibuuu……..”, sakku di pelukannya. Orang-orang di sekitarku pun tak luput melihat kami. Baru kali ini kulihat Ibu menangis. Rupanya wajah Ibu kalau menangis jelek sekali, karena mukanya memerah dan keluar ingus dari hidungnya.
Setelah tangisku reda, Ibuku mengajakku pulang dan tak lupa membayar kekuranganku yang tadi. Sambil berlalu pergi, Ibu tua itu tak lupa melambaikan tangannya padaku. Ah, aku berjanji esok hari aku akan ke sini lagi. Ternyata kembang gula ibu tua itu sangat enak. Tapi, aku akan mengajak ibuku. Sambil digandeng Ibu, kupikir ia akan memarahiku tapi ternyata ia malah menasehatiku agar suatu saat nanti minta ijin terlebih dulu jika ingin pergi ke suatu tempat. Senangnya hatiku punya Ibu yang begitu baik.
Sejak saat itu, aku selalu minta ijin pada Ibu kemana pun aku akan pergi. Karena aku tidak mau melihat Ibuku menangis lagi. Ibuku lebih cantik kalau tersenyum. Kata Ayah, senyum Ibu itulah yang membuatku hadir di dunia ini. Sebenarnya maksud Ayah apa, ya ? Ah, mungkin itu semacam pembicaraanya orang-orang yang sudah se’gede’ mereka.
Jadilah setelah Ibuku mengajakku berkeliling pasar, kami pun pulang. Satu hal yang aku sukai juga, yaitu kita selalu pulang naik becak. Aku menyukainya karena aku bisa melihat kendaraan di sekitarku dan rasanya sejuk sekali karena bisa merasakan angin yang berhembus. Tak jarang akhirnya aku tertidur di pangkuan Ibu karena saking enaknya. Perjalananku ke pasar sungguh sangat menyenangkan. Esok hari aku pasti akan menantikan perjalanan ke pasar lagi.

4 comments:

Rara said...

putri..
met gabung di blogfam yah :)

cerpen said...

mau nulis cerpen anak di www.cerpen.net?

sallma said...

kak Aisyah, aku sallma. Aku suka ngarang cerita anak juga, seperti kakak.

shania tabina said...

Hai..Aku Shania..Aku Suka Lho..Cerita Kamu..Bagus2!..Cerpen aku gk ada apa2nya..